I should . Talk Less. DO MORE !

Talk Less. Do More

Jargon yang udah pasti pada hafal ya dengan tagline ini. Tagline bagus tapi dengan niatan yang nggak bener. Iklan yang merusak. Merokok. Diluar itu, saya akui tim kreatif iklan ini kece sekali bikin sesuatu yang mewakili pesan yang benar. Kalau saya artiin lebih ke “Jangan Banyak Omong, Kerja Kerja ! “.

Sedangkan saya, mahasiswa komunikasi. Komunikasi. Yang notabene dituntut untuk aktif ngomong kan ya ? aktif menyuarakan sesuatu yang benar. Menyampaikan ilmu atau informasi yang bermanfaat. Aktif ngeblog mungkin salah satunya, hehe

Hal ini cukup bertolak belakang dengan konsep Dikit Ngomong, Banyak Tindakan ini. Walaupun sebenarnya sebagai anak komunikasi kita juga nggak banyak ngomong. Nggak bener itu. Tapi ngomong sesuai konteks situasi dimana kita berada. Menyampaikan pesan dengan efektif, dengan menyiasati gangguan dengan teori. Iya, teori jadinya hanyalah teori. Pada akhirnya dunia sosial tidak semuanya bisa diterapkan dalam teori. Menjalani hubungan dengan orang lain dalam komunikasi yang benar sesuai teori ? tidak semudah itu. Dan itulah mengapa komunikasi sering menjadi mis-komunikasi. Terjadi pesan yang salah pengertian. Oke, sekilas Intermezzo.

Talk Less. Do More.

Beberapa hari ini saya dibuat iri setengah mati dengan beberapa teman saya yang sudah Do More. Atau setidaknya Do Something dan Do Progress. Tidak stagnan dan itu-itu saja. Dinamis. Dan berubah. Saya iri. Tidak, saya tidak iri dengan tindakan yang sudah mereka lakukan. Tindakan yang berguna bagi orang lain, lingkungan di sekitarnya, kelompoknya, atau setidaknya untuk diri mereka sendiri. Rasa iri saya ini maksudnya positif. Saya tidak nyiyir atau dengki dengan hal yang sudah mereka lakukan atau capai. Tapi, iri yang saya rasakan ini justru seperti sebuah reflector yang memantul ke diri saya sendiri dan selalu membuahkan pertanyaan, “Apa yang sudah saya lakukan ya ?”

Ya, pertanyaan ini buat saya salah satu pertanyaan mengerikan dan pertanyaan-yang-seharusnya-dihindari. Karena efeknya bisa bikin.. merasa bersalah.

Selalu begitu.

Dari sekian buku (yang memang belum banyak) yang saya baca , sekian ceramah motivator yang saya dengar, kenapa belum juga mampu dengan sekuat tenaga membuat saya ingin bergerak melakukan sesuatu ? misalnya, setelah saya membaca bukunya Pandji Pragiwaksono, NASIONAL.IS.ME , saya merasakan semangat yang begitu berapi-api tentang perubahan. Tentang Indonesia yang lebih baik. Tentang optimisme untuk melakukan sesuatu yang terbaik buat bangsa ini, setidaknya lingkungan sekitar saya. Ya, Mahasiswa sebagai Agent of Change cukup menampar kenyataan ini berkali-kali. Atau jangan pergunakan status mahasiswa lah, tapi pemuda. Saya masih muda, dan saya harus berguna !

Dan perasan seperti itu menyakitkan ketika pada akhirnya saya melempem lagi lalu seketika teringat semangat itu tapi justru melempem kemudian. Saya merasa pecundang sekali. Loser.

Oh shit. Loser terlalu menyedihkan dan mengerikan. Sebutan yang hina. Menurut saya.

Oke, saya tidak sehina itu -___-

Akhirnya, saat hal tersebut terjadi, saya akan menyalahkan keadaan. Keadaan seperti,

“Oke, saya tidak bisa berbuat perubahan sendirian, saya butuh teman. Butuh pasukan”.

Atau hal lain..

“Saya sanggup jadi planner, tapi please.. saya tidak bisa menjadi leader yang memimpin, menangani, mengawali tindakan perubahan tersebut. Ajak saya ke tindakan kalian, apa pun (yang se-visi dan misi) maka saya akan senang hati membantu menjadi planner dan pencari ide kreatif. Saya siap !”

Alasan-alasan seperti itulah yang membuat akhirnya apapun ide perubahan atau langkah pertama yang ingin saya buat, akan terhenti. Selesai sampai di ide saja. Tak ada perubahan. Dan itu membuat saya semakin merasa bodoh. Da saat satu persatu teman saya sudah berbuat dan barubah, saya tetap berada dalm lingkup yang itu-itu saja. Diributkan dengan langkah pertama yang tak segera dibuat.

Sebenarnya ada pernyataan yang membuat saya benar-benar gemas tentang bagaimana menyikapi sebuah tindakan. Ada pertanyaan dari salah satu followers Ipporight, salah satu motivator, penulis buku, dan pengusaha muda terkenal, yaitu

“Mas, apa yang harus saya lakukan lebih dulu agar bisa menjadi pengusaha ?” . kira-kira seperti itulah pertanyaannya.

Lalu beliau membalas, “Buka usahanya besok, jualan apa saja”.

Udah beres. Gitu aja. Semudah itu.

Dan saya berpikir, emang iya sih, kenapa mesti mikir terlalu rumit untuk menjadi pengusaha ? dibuka, dijalani secara konstan. Konsisten.

Lalu, hal ini juga kah yang seharusnya saya lakukan untuk setiap tindakan yang ingin saya lakukan ? membuat langkah pertama ? dan langkah kecil dulu bukan ?

Jujur, sebenarnya saya takut dengan komitmen. Maksud saya konsistensi. Hal ini yang selalu mejadi PR besar bagi saya pada setiap hal yang saya lakukan. Dan beruntunglah kalian yang punya konsistensi tinggi terhadap hal yang kalian lakukan.

Saya sudah tau jawabannya. Memang sudah. Langkah pertama, dan konsisten. Cukup.

Dan untuk menjadi ‘keren’ bagi saya, saya sebaiknya segera bertindak. Tidak hanya diam dan mengamati saja. semoga istiqomah, amin 🙂

 

Advertisements

About ARTnisaa

share my own world, that random, fun, and a lot of though about
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to I should . Talk Less. DO MORE !

  1. faninos says:

    talk less do more is like promise little do much ∩__∩ menjaga komitmen itu emang susah nis ㄱㄱㄱㄱ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s